Kamis, 05 Maret 2009

Gang Jablay *

31 Juli 2006 aku mulai tinggal di gang itu. Jakarta dan tinggal di gang itu bukanlah impianku. Salah seorang bos developer merekrutku dari kampung Sri Pemandang Pucuk Sungailiat, dan mengajak ke Jakarta. Di Jakarta dia menyuruh anak buahnya, warga lokal, mencari tempat tinggal untukku. Kamar 3 x 3 dengan fasilitas sederhana, sesuai dengan permintaanku. Jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja hanya 300 meter.

Aku baru tiba, dan ngobrol sebentar di kantor. Kemudian aku ingin meletakkan barang bawaanku ke tempat tinggal baru. Berangkatlah aku bersama anak buah bos tadi. Dia membawaku ke sebuah gang yang ujungnya terhadang tembok setinggi 3 meter yang berselimut lumut kerak dan tertancap sebatang pohon mangga manopuese. (setelah tinggal beberapa waktu di situ, beberapa orang di situ bilang, pohon itu angker; ada penunggunya, dan di antara mereka pernah melihat makhluk itu, tetapi aku tidak tahu kebenarannya karena aku tidak dikaruniai kemampuan metafisik.)


Kamarku berada di lantai dua, menghadap ke utara. Fasilitasnya berupa kasur busa dengan sprei baru, bantal, dan sebuah lemari pakaian berukuran kecil. Tidak ada saling silang sirkulasi udara. Karena Juli masuk musim kemarau, suhu kamar kurasa gerah. Sebagai penghuni baru sekaligus baru pertama ini aku tinggal di Jakarta, tentu saja belum ada kipas angin.


Satu hari tinggal di situ aku langsung menikmati malam bersama orang-orang sekitar di portal jaga yang terletak dekat gerbang masuk kompleks perumahan salah satu departemen masa lampau. Tiap malam aku bergabung. Bermain karambol atau sekadar ngobrol menunggu kunjungan kantuk. Ada tukang ojeg, tukang air, tukang servis alat elektronik, tukang jahit, sopir truk angkut puing, kuli bangunan, buruh pabrik kardus, pedagang rokok eceran, pengangguran, dan lain-lain.


Seringkali sepulang bekerja aku singgal dulu di portal sebelum masuk ke gang tempat tinggalku. Menetralisir suhu dari ruangan AC ke udara alamiah. Menetralisir perasaan situasi sosial setelah pagi hingga menjelang sore bergaul dengan bos-bos, yang terbiasa dengan dunia malam bersama para bidadari imitasi.


Bidadari imitasi? Ah, terlalu seksi, kayaknya. Orang-orang menyebutnya “Jablay” sejak Titi Kamal mempopulerkannya dalam “Mendadak Dangdut”. Dan, rupa-rupanya di tempat tinggalku, setiap jam 3 sore mulai tampak para bidadari berjalan menuju tempat-tempat hiburan malam yang berjumlah lebih dari tiga tempat di sekitar tempat tinggalku. Ada yang mulus, ada pula yang dipaksa-paksakan untuk mulus. Setiap mereka lewat, seketika pemandangan berubah warna, dan wewangian menyeruak lubang hidung.


Salah satu jalan keluar para bidadari imitasi itu adalah gang tempat tinggalku. Dari situlah aku mendengar julukan orang-orang pada gang tempat tinggalku, “Gang Jablay.”


Menurutku, seharusnya namanya “Gang Jablay Buntu”. Namun aku ingat, sesuatu yang mudah diucapkan dan diingat cenderung sederhana, misalnya “Gang Lenong”, “Gang Senggol”, “Gang Bonggol”, dan lain-lain. Maka kupakai saja nama pendeknya, “Gang Jablay” seperti orang-orang di sekitar tempat tinggalku menjulukinya. Kata “buntu” terpaksa kubuang agar tidak merusak “kebiasaan” sebagian orang di situ.


Memang tepat, “Gang Jablay”. Lebih dari 20 bidadari imitasi tinggal di situ. Di antara kamar-kamar tempat tinggalku pun terdapat empat bidadari imitasi. Belum lagi dalam beberapa bangunan di sekitar tinggalku. Ada yang bekerja sebagai waitres di diskotik-dangdutik, ada yang menjadi tenaga nikmat di sebuah panti pijat, bahkan ada yang menjadi “simpanan” pengusaha batubara dari Kalimantan. Mereka memiliki pasangan tetap tanpa surat resmi pernikahan. Paha-paha aneka warna dan kontur biasa terpampang lebar di tempat tinggalku. Sementara keseharian pasangan nikmat mereka cenderung ongkang-ongkang di kamar.


Nama pun bisa berubah. Dari yang semula bernama Ningsih, berubah menjadi Lina sewaktu bekerja menjadi waitres di sebuah dangdutik lalu berstatus “istri simpanan”. Atau Inah yang menjadi Indah. Romlah jadi Mila. Rosita jadi Jelita. Suminten jadi Susi. Dan lain-lainnya. Aku tahu begitu karena ada seorang diantaranya yang minta aku palsukan namanya di KTP. Kebetulan aku tidak punya scanner sehingga aku tidak bisa memenuhi permintaannya.


Soal status para bidadari itu, selain istri simpanan yang dinikahi secara siri, juga ada yang masih berstatus resmi sebagai istri orang tetapi minggat dari rumah. Tidak jelas, apakah lantaran suaminya di kampung yang kurang bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, entah karena korban kekerasan, entah memang kegemaran hidup seperti orang kaya, entah apa lagi. Padahal laki-laki yang sekarang hidup bersamanya belum tentu baik dan sabar, bahkan ada juga yang dengan seenaknya meninggalkan istri dan anaknya di kampung.


Soal pekerjaan, seorang diantara mereka mengaku bekerja di sebuah restoran di Jakarta Pusat. Berangkat kerja pukul 09.30 dan pulang pukul 20.30-an. Masa awal dia dan pasangannya mendiami kamar di sebelahku, dia sering membawa oleh-oleh makanan enak-mewah untuk memperkuat status pekerjaannya. Aku tidak perlu percaya atau curiga. Biarlah waktu yang akan menunjukkan kenyataannya. Dan benar, ternyata ia bekerja di sebuah panti pijat plus. Aku tahu dari obrolan dengannya perihal suntik demi keamanan seksual yang saat itu menjadi tayangan di televisi. Ia mengaku rutin disuntik tiap bulan. Baru beberapa minggu kemudian seorang kawan bilang, “Dia bekerja di panti pijat plus.”


Apakah hidup mereka selalu dipenuhi kebahagiaan dan keceriaan? Tak jarang terdengar teriakan makian dari salah satu kamar. Seorang bidadari imitasi, yang usianya masih 18 tahun tapi tubuhnya dikarbit dalam dunia kenikmatan dunia, bisa memaki pasangan nikmatnya dengan lantang, “Anjing! Setan! Ngentot!” Si laki-laki sering kali tidak berkutik karena selama ini dia hidup dari bisnis selangkangan milik bidadari imitasi atau raba-rabaan lelaki pencari nikmat sesaat di meja berbotol-botol bir.


Bagaimana dengan respon induk semang kami ketika melihat realitas mereka? “Terserah apa yang mereka lakukan, asalkan rutin bayar sewa tiap bulan, dan tidak membuat keonaran,” alasannya begitu kira-kira. Induk semang tahu bahwa mereka begini-begitu tetapi apalah arti semua itu dibanding uang setoran saban bulan bahkan lebih besar daripada setoranku. Memang begitulah adanya; pekerjaan dan status pernikahan sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang sangat penting di situ. “Ini kota besar, Bung!” kata kawanku.


Aku sadar, ini kota besar. Di sini kutemui orang-orang yang mayoritas tidak sampai jenjang pendidikan tinggi. Para bidadari juga begitu. Maksimal jebolan SMA, tapi tidak sedikit yang hanya sampai bangku SMP. Isi obrolan hanya berkisar dalam keseharian yang jauh dari suasana diskusi intelek, dan aku harus memahami realitas mereka. Aku pun menggunakan keseharian sebagai obrolan, bukan lagi memasukkan bahan-bahan yang sangat tidak mengena dalam kapasitas berpikir mereka. Misalnya makanan ini-itu, obyek wisata yang begini-begitu sampai tentang dunia olah raga semisal sepakbola.


Begitulah akhirnya kupakai nama itu sebagai tempat aku menulis selama di Jakarta. Dan, 07 Maret 2009, Gang Jablay akhirnya kutinggalkan.


*******

*) ditulis sebelum komputerku masuk kotaknya untuk berangkat ke Balikpapan, menyongsong masa depan. Banyak cerita yang ingin kuceritakan selama berada di sana tetapi waktu jualah yang menjadi pertimbangan penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar