Minggu, 07 Februari 2010

Rumah di Bukit



Hal pertama yang menarik perhatian saya pada kali pertama (26 September – 05 Oktober 2008) berkunjung ke kota Balikpapan adalah pemandangan rumah-rumah di bukit-bukit atau dataran tinggi. Dan lebih menarik lagi pemandangan itu pada malam hari. Lampu rumah-rumah seperti mata nyalang binatang malam berukuran raksasa. Mungkin juga kawanan kunang-kunang raksasa yang hinggap di tiap-tiap dataran tinggi Balikpapan.


Begitu pula sebaliknya, ketika kau berada di sebuah rumah di dataran tinggi itu pada malam hari. Di samping kau akan memandang rumah-rumah di dataran tinggi di seberang, juga hiasan elektrik gedung-gedung tinggi. Kalau kau berasal dari daerah yang berkontur cenderung rata, pemandangan rumah-rumah di Balikpapan akan memberi nuansa tersendiri dalam ingatanmu tentang kota dan rumahnya. Mungkin berpikir, bagaimana dulu orang-orang memasok material via jalan yang seadanya, bagaimana pondasi dan pembangunannya, dan lain-lain.


Ketika datang lagi untuk menetap (10 Maret 2009) di kota ini saya membuka pikiran saya untuk hal-hal yang baru. Saya katakan “baru” karena saya dulu berdomisili di daerah yang tidak seperti kondisi permukaan (kontur) tanah di kota ini. Di Sungailiat dan Pangkalpinang Bangka, Langensari dan Babarsari Yogyakarta, dan Jelambar Jakarta Barat, kondisi permukaan tanah tidaklah berbukit-bukit. Pembangunan rumah di sana jelas berbeda perlakuannya dengan di kota ini.


Kontur Tanah

Kota pesisir ini bertabur dataran tinggi seperti dikelilingi para raksasa bertubuh tambun. Sehingga kondisi permukaan (kontur) tanah kota ini jelas tidak datar-rata. Berbukit dan berlembah. Jalanan bertanjak dan berkelok. Tebing dan jurang di kanan-kiri jalan. Dan di situlah rumah-rumah serta bangunan lainnya berdiri. Sempat saya berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalau longsor, masuk jurang, rumah ambruk dari dataran tinggi, kapal terbang menabrak rumah-rumah, dan yang serba berisiko lainnya dari dataran tinggi itu.


Nama-nama daerahnya pun memperlihatkan ketinggian itu, misalnya Gunung Dubs, Gunung Sari, Gunung Pasir, Gunung Malang, Gunung Guntur, Gunung Kawi, Gunung Pipa, Gunung Samarinda, Gunung Belah, Gunung Bahagia, dan lain-lain. Padahal di kota Balikpapan sama sekali tidak ada gunung dalam arti sesungguhnya. Begitulah kemudian sebagian orang berkelakar, “Gunung-gunung di Balikpapan tidak perlu kau daki seperti umumnya seorang pendaki gunung tapi cukup naik angkutan kota, ojeg, atau kendaraan sendiri.”


Rumah Rakyat

Selama belum genap satu tahun berada di kota ini, setiap keluar dari rumah dan melintasi jalan-jalannya saya merasa ditonton oleh rumah-rumah penduduk karena rumah-rumah itu menempatkan sebuah beranda menghadap ke jalan. Tak pelak jalan pun ibarat lintasan panggung terbuka dan rumah-rumah ibarat bangku-bangku penonton. Tapi sebenarnya para penghuninya tidak terlalu peduli pada sesiapa yang melintas.


Rumah berdinding bata berbaur dengan rumah berdinding papan. Dinding bata dibentuk beraneka rupa dan dibedaki dengan aneka warna. Dinding papan pun demikian, bahkan yang paling menarik adalah dinding papan yang dicat warna coklat atau diplitur untuk memperkuat warna asli kayunya (jenis bengkirai dan ulin). Pemandangan yang sangat berkesan di pagi hingga sore hari. Maka ketika malam hari, cahaya warna-warni lampu rumah-rumah di dataran-dataran tinggi itu membuat pemandangan semakin eksotis.


Akan tetapi, dari penjelajahan singkat saya, rumah tradisional rakyat kota Balikpapan belum juga saya temukan. Kalaupun pada sebagian atap rumah menampilkan ukiran tradisional, belumlah menyatu dalam bentuk atap rumahnya. Hanya gaya panggung berbahan kayu (ulin dan bengkirai) yang cukup khas di kota ini, meski bentuk rumah keseluruhannya merupakan campuran dari rumah Banjar, Dayak, dan Bugis. Ada juga yang berbentuk rumah Toraja.


Secara garis besar rumah penduduk Balikpapan mengadopsi gaya umum. Artinya, gaya yang biasa saya lihat di kota-kota lainnya, seperti Banjarmasin, Pangkalpinang, Sungailiat, Jakarta, dan lain-lain. Bahkan ada pula yang mengikuti trend, misalnya gaya mediterania dan minimalis. Sama sekali belum saya temukan bentuk rumah yang lain daripada yang pernah saya lihat selama ini, atau tepatnya rumah tradisional Balikpapan.


Hal ini sangat bisa saya maklumi, mengingat Kota Minyak ini dibangun oleh orang dari luar Balikpapan (pendatang). Proporsi asal (suku) penduduknya bervariasi. Ada Banjar, Dayak, Bugis, Buton, Toraja, Mandar, Batak, Jawa, Madura, Manado, Bali, Minang, dan lain-lain. Sedangkan dari negara lain, misalnya Belanda, Perancis, Amerika, Filipina, Malaysia, dan lain-lain. Maka ketika kemajemukan berinteraksi secara harmonis dan sinergis, imbasnya pun tampak pada arsitektur rumah Balikpapan yang belum beridentitas kuat.


Namun, dalam seluruh keterbatasan saya, tidaklah menutup kemungkinan bahwa saya kurang berplesir sampai ke seluruh pelosok Balikpapan untuk benar-benar mencermati rupa-rupa rumah rakyat Balikpapan. Setidaknya, saya masih menaruh harapan, di antara sekian banyak rumah beraneka gaya tersebut suatu saat nanti saya bisa menemukan beberapa rumah rakyat yang benar-benar bergaya tradisional setempat, bukan hanya tempelan asesoris yang terkesan asal pasang.


Kawasan Perumahan Tempo Doeloe

Satu kawasan perumahan yang pertama kali saya kunjungi adalah kompleks perumahan Pertamina di daerah Gunung Dubs. Kawasan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sebelum Indonesia merdeka ini tetap mempertahankan keaslian gundukan tanah dan hutan lindungnya yang hijau-sejuk dengan pepohonan liar dan tua. Saluran air dibuat dengan baik dan kebersihannya terjaga. Rerumputan pun ditangani dengan baik – dipangkas pada waktu-waktu tertentu oleh para petugasnya. Sudah barang tentu resapan air tetap terjamin.


Menurut saya, inilah penataan kawasan perumahan yang ideal, dan orang-orang Belanda memang lihay dalam persoalan ini. Oh ya? Ya! Kalau tadi sedikit saya ungkapkan tentang tata lansekapnya, begitu pula dengan rumah-rumahnya. Rumah khas bergaya arsitektur kolonial yang dipadukan dengan arsitektur lokal. Rumah bergaya Eropa tapi panggung. Jendela dan pintu lebar-tinggi tapi memiliki kaki panjang (panggung). Bahan bangunan bervariasi. Ada yang memakai dinding bata. Ada yang tetap memakai papan.


Yang tidak kalah menariknya, pagar halaman rumah. Tidak ada pagar halaman yang menjulang. Tingginya sekitar 1 meter saja, dan dari bahan kayu. Itu pun tidak setiap halaman rumah memiliki pagar. Dengan suasana alami dan paduan gaya bangunan yang khas, kawasan ini layak menjadi salah satu daerah tujuan wisata sejarah dan wisata arsitektur di Balikpapan.


Kawasan Perumahan Tempo Kini

Bagaimana dengan kawasan perumahan lainnya? Balikpapan Baru, misalnya. Kawasan ini mulai digarap menjelang tahun 1990-an. Kawasan perumahannya tergarap lumayan bagus dengan pepohonannya. Namun, hal yang, menurut saya, tidak pas adalah bentuk bangunan beserta nama-nama cluster yang sangat tidak kontekstual, semisal Amsterdam. Apakah tidak ada nama atau istilah Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, yang bisa dipakai?


Demikian pula dengan kawasan niaganya (Mal Fantasi, pertokoan, dll). Bentuk-bentuk arsitekturalnya benar-benar tidak kontekstual karena mengambil bentuk-bentuk Eropa tapi tidak disesuaikan dengan karakteristik klimatologi lokal. Hal ini jelas berbeda dengan gaya arsitektur kolonial bangunan kompleks Pertamina (didesain langsung oleh arsitek asal Belanda dan dibangun oleh kolonial Belanda), di mana gaya kolonial bikinan orang Belanda selalu kontekstual secara klimatologis di setiap daerah jajahannya.


Kawasan perumahan yang pernah pula saya kunjungi, misalnya Perumahan Batu Ampar dan Balikpapan Regency, menurut saya, masih jauh dari kesan asri dan nyaman. Pengelolaan lingkungan, infrastruktur, dan lain-lain tampak berantakan dan acak-acakan. Sementara beberapa kawasan perumahan lainnya belum saya kunjungi.


Dalam kaitan antara pembangunan perumahan dan alam, sebagian warga kota ini semakin kurang akrab dengan lingkungan alamnya. Penggundulan dan pemangkasan kawasan perbukitan kian marak sejak libido laba pengembang melampaui ubun-ubun. Reboisasi menjadi ilusi yang tercetak dalam blueprint perencanaan. Ya, hanya sebatas rencana,


Fungsi peresapan pun sama sekali kurang dihayati, kendati sebagian besar penduduk kota Balikpapan akrab dengan televisi, dan sosialisasi fungsi peresapan bukan sesuatu yang nihil. Air hujan yang mengguyur kota sebagian besar langsung dialirkan oleh selokan-selokan. Debit air yang berlebihan ini telah menimbulkan banjir di beberapa wilayah kota.


Yang tak kalah memprihatinkan, sebagian mangrove di wilayah pesisir pun digerogoti oleh pembangunan sampai ke akar-akarnya, semisal kawasan Balikpapan Super Block. Padahal abrasi yang terjadi di sepanjang pesisir kota ini memperlihatkan kecenderungan yang signifikan. Belum lagi bangunan yang muncul merupakan bangunan bergaya modern, yang sama sekali tidak mencerminkan kekhasan kota Balikpapan.


Oleh karenanya, secara sekilas pandang rumah-rumah di kota Balikpapan memiliki salah satu kekhasannya yang jelas, yaitu mengepung perbukitan-perbukitan. Kalau kau tidak percaya, cobalah tengok dan cermati baik-baik. Siang ataupun malam, kau akan melihat pemandangan itu.


Telaga Sari, 06 Februari 2010