Selamat Tawon Baru 2009.
Hidup tak cukup menyesali sengatan-sengatan tawon silam
membanggakan manisnya madu-madu tawon silam.
Sengatan baru, juga sembuh, serta madu lezat berkhasiat sakti
ada di hadapan kita
*
31 Desember 2008.
Barangkali saja inilah hari raya terakhir masa bujang saya bersama orangtua di Bangka sebab beberapa minggu lagi saya akan hijrah ke
Bangka, Jogja,
Saya sama sekali tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya benar-benar jalan-jalan begini, terkecuali semakin menginsyafi bahwa
**
Malam Tawon Baru 2009 saya rayakan bersama keluarga angkat saya, Mas Sun dan Mbak Sorga dan keluarga adik Mbak Sorga (Percayalah, tiada manusia di dunia yang bisa masuk Sorga, kecuali Mas Sun bahkan bisa berkali-kali! Kalian mau masuk Sorga? Sudahlah, kalian tak usah bikin perkara. Buanglah impian masuk Sorga itu.)
Acaranya mendadak. Sekitar pkl.18.30 WIB saya berkunjung ke rumah Mas Sun. Omong punya omong, diajaklah saya berkumpul ke rumah salah seorang adiknya Mbak Sorga (mereka beragama Islam, para perempuannya berjilbab). Bakar ikan Krisi, dan otak-otak ikan Tenggiri. Saya makan tiga ekor. Sedap nian! Dan itulah acara pertama sekaligus terakhir untuk berkumpul dengan mereka karena hanya kebetulan belaka.
Malam itu langit bertabur bintang. Kembang api tengah dipersiapkan. Di sela-sela menikmati ikan bakar, saya mengirim sms untuk Jocy dan mama, ucapan “Selamat Tawon Baru 2009”. Terus, setelah makan-makan usai, saya menelpon Jocy, memberi tahu saya sedang apa, di mana, dengan siapa, dan mau bagaimana. Sedikit saya singgung soal hari raya Tawon Baru dalam tradisi keluarga kami, yang tidak terlalu semarak merayakan
Pukul 23.45 WIB saya pamit pada keluarga besar itu karena saya disuruh menjumpai kawan di sebuah radio swasta untuk acara penyulutan kembang api. Sepanjang perjalanan, jalan-jalan di daerah kami ramai juga pada malam Tahun Baru ini. Di sebagian wilayah langit, beberapa kembang api sudah melambung, menyala, meletuskan api-api. Juga suara terompet dan konvoi kendaraan roda dua seakan hendak mempercepat waktu pergantian tahun.
Ah, andai Jocy bersama saya menghabiskan malam Tahun Baru tanpa sisa setetes pun, alangkah bahagianya saya. Ah, beginilah kiranya khayalan orang kesepian, yang sedang terhalang oleh jarak dan waktu untuk bercengkrama dengan sang kekasih. Dan khayalan tadi meletus pada kembang api di halaman radio swasta pada pkl. 00.00 WIB. Usai menyaksikan acara biasa-biasa saja itu, saya langsung pamit pulang.
Acara kembang api memang biasa-biasa saja yang terlihat. Tiada istimewa antara perayaan dan kembang api karena hanya semacam itu hasil letusannya di angkasa. Tiada kreasi spektakuler nan fantastis di sekitar daerah kami. Atau mungkin lantaran saya bukan produsen maupun salesman kembang api, yang melihat hal-hal sederhana tanpa memperhitungkan laba dari bisnis barang sejenis.
Dalam perjalanan pulang saya sempat berpikir, andai tahun baru saya bisa melihat ledakan bom besar di mana-mana, ledakan-ledakan pesawat terbang yang sedang melintas di langit kota, nyasarnya milyaran peluru asli, roboh-runtuhnya menara-menara, konvoi tank, pawai ternak, karnaval pasien rumah sakit jiwa, baku tembak sesama aparat, bisingnya sirine sampai atraksi akrobatis pesawat ulang-alik luar angkasa di atas kampung-kampung, tentunya seremonial tahun baru akan lebih meriah dan sangat berkesan dalam benak banyak orang yang menyaksikannya.
Waktu saya sampai di rumah, tiga kamar di rumah bagian belakang dan lampu terasnya gelap gulita. Barangkali keluarga besar kami sudah terlelap dan mimpi menjadi direktur perusahaan kembang api. Namun sangkaan saya keliru. Orang-orang di rumah kami sudah pergi ke pantai Matras (bersebelahan dengan pantai Parai), yang berjarak 3 km dari rumah kami. Saya tertinggal! Waduh biyuh! Saya pun menelpon Jocy. Lalu, hanya tulisan inilah yang akhirnya tercipta.
***
Kamis, 1 Januari 2009, setelah pkl. 10.00 WIB. Saudara-saudara sedarah dan lain darah serta lain daerah di
Konon, ayah saya datang ke
Pada hari raya 1 Januari mereka selalu hadir seperti mengisi absen tahunan dalam acara bersilaturahmi kepada para pini sepuh keluarga besar, yang mana ayah-ibu saya adalah orangtua tertua di
Saya mengambil moment tahun baru kali ini sebaik-baiknya untuk tetap berada di sekitar mereka. Bertemu, berbicara langsung, dan apabila ada pertanyaan seputar keberadaan saya, bisa langsung saya jawab seketika. “Tanyakan langsung pada orangnya, jangan memakai jawaban makelar atau gossip pinggir selokan,” begitu alasan saya dalam hati sebab pada perayaan tahun baru 2010 dan seterusnya belum tentu saya akan hadir dalam kondisi kelajangan saya saat 1 Januari 2009.
Dalam situasi kumpul keluarga besar tersebut, saya tak bisa leluasa menggauli Jocy lewat telpon seluler seperti ketika saya sedang sendirian di kos saya di
****
Sungailiat Bangka, ujung hidung 2008 sampai bibir 2009