Minggu, 07 Februari 2010

Rumah di Bukit



Hal pertama yang menarik perhatian saya pada kali pertama (26 September – 05 Oktober 2008) berkunjung ke kota Balikpapan adalah pemandangan rumah-rumah di bukit-bukit atau dataran tinggi. Dan lebih menarik lagi pemandangan itu pada malam hari. Lampu rumah-rumah seperti mata nyalang binatang malam berukuran raksasa. Mungkin juga kawanan kunang-kunang raksasa yang hinggap di tiap-tiap dataran tinggi Balikpapan.


Begitu pula sebaliknya, ketika kau berada di sebuah rumah di dataran tinggi itu pada malam hari. Di samping kau akan memandang rumah-rumah di dataran tinggi di seberang, juga hiasan elektrik gedung-gedung tinggi. Kalau kau berasal dari daerah yang berkontur cenderung rata, pemandangan rumah-rumah di Balikpapan akan memberi nuansa tersendiri dalam ingatanmu tentang kota dan rumahnya. Mungkin berpikir, bagaimana dulu orang-orang memasok material via jalan yang seadanya, bagaimana pondasi dan pembangunannya, dan lain-lain.


Ketika datang lagi untuk menetap (10 Maret 2009) di kota ini saya membuka pikiran saya untuk hal-hal yang baru. Saya katakan “baru” karena saya dulu berdomisili di daerah yang tidak seperti kondisi permukaan (kontur) tanah di kota ini. Di Sungailiat dan Pangkalpinang Bangka, Langensari dan Babarsari Yogyakarta, dan Jelambar Jakarta Barat, kondisi permukaan tanah tidaklah berbukit-bukit. Pembangunan rumah di sana jelas berbeda perlakuannya dengan di kota ini.


Kontur Tanah

Kota pesisir ini bertabur dataran tinggi seperti dikelilingi para raksasa bertubuh tambun. Sehingga kondisi permukaan (kontur) tanah kota ini jelas tidak datar-rata. Berbukit dan berlembah. Jalanan bertanjak dan berkelok. Tebing dan jurang di kanan-kiri jalan. Dan di situlah rumah-rumah serta bangunan lainnya berdiri. Sempat saya berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalau longsor, masuk jurang, rumah ambruk dari dataran tinggi, kapal terbang menabrak rumah-rumah, dan yang serba berisiko lainnya dari dataran tinggi itu.


Nama-nama daerahnya pun memperlihatkan ketinggian itu, misalnya Gunung Dubs, Gunung Sari, Gunung Pasir, Gunung Malang, Gunung Guntur, Gunung Kawi, Gunung Pipa, Gunung Samarinda, Gunung Belah, Gunung Bahagia, dan lain-lain. Padahal di kota Balikpapan sama sekali tidak ada gunung dalam arti sesungguhnya. Begitulah kemudian sebagian orang berkelakar, “Gunung-gunung di Balikpapan tidak perlu kau daki seperti umumnya seorang pendaki gunung tapi cukup naik angkutan kota, ojeg, atau kendaraan sendiri.”


Rumah Rakyat

Selama belum genap satu tahun berada di kota ini, setiap keluar dari rumah dan melintasi jalan-jalannya saya merasa ditonton oleh rumah-rumah penduduk karena rumah-rumah itu menempatkan sebuah beranda menghadap ke jalan. Tak pelak jalan pun ibarat lintasan panggung terbuka dan rumah-rumah ibarat bangku-bangku penonton. Tapi sebenarnya para penghuninya tidak terlalu peduli pada sesiapa yang melintas.


Rumah berdinding bata berbaur dengan rumah berdinding papan. Dinding bata dibentuk beraneka rupa dan dibedaki dengan aneka warna. Dinding papan pun demikian, bahkan yang paling menarik adalah dinding papan yang dicat warna coklat atau diplitur untuk memperkuat warna asli kayunya (jenis bengkirai dan ulin). Pemandangan yang sangat berkesan di pagi hingga sore hari. Maka ketika malam hari, cahaya warna-warni lampu rumah-rumah di dataran-dataran tinggi itu membuat pemandangan semakin eksotis.


Akan tetapi, dari penjelajahan singkat saya, rumah tradisional rakyat kota Balikpapan belum juga saya temukan. Kalaupun pada sebagian atap rumah menampilkan ukiran tradisional, belumlah menyatu dalam bentuk atap rumahnya. Hanya gaya panggung berbahan kayu (ulin dan bengkirai) yang cukup khas di kota ini, meski bentuk rumah keseluruhannya merupakan campuran dari rumah Banjar, Dayak, dan Bugis. Ada juga yang berbentuk rumah Toraja.


Secara garis besar rumah penduduk Balikpapan mengadopsi gaya umum. Artinya, gaya yang biasa saya lihat di kota-kota lainnya, seperti Banjarmasin, Pangkalpinang, Sungailiat, Jakarta, dan lain-lain. Bahkan ada pula yang mengikuti trend, misalnya gaya mediterania dan minimalis. Sama sekali belum saya temukan bentuk rumah yang lain daripada yang pernah saya lihat selama ini, atau tepatnya rumah tradisional Balikpapan.


Hal ini sangat bisa saya maklumi, mengingat Kota Minyak ini dibangun oleh orang dari luar Balikpapan (pendatang). Proporsi asal (suku) penduduknya bervariasi. Ada Banjar, Dayak, Bugis, Buton, Toraja, Mandar, Batak, Jawa, Madura, Manado, Bali, Minang, dan lain-lain. Sedangkan dari negara lain, misalnya Belanda, Perancis, Amerika, Filipina, Malaysia, dan lain-lain. Maka ketika kemajemukan berinteraksi secara harmonis dan sinergis, imbasnya pun tampak pada arsitektur rumah Balikpapan yang belum beridentitas kuat.


Namun, dalam seluruh keterbatasan saya, tidaklah menutup kemungkinan bahwa saya kurang berplesir sampai ke seluruh pelosok Balikpapan untuk benar-benar mencermati rupa-rupa rumah rakyat Balikpapan. Setidaknya, saya masih menaruh harapan, di antara sekian banyak rumah beraneka gaya tersebut suatu saat nanti saya bisa menemukan beberapa rumah rakyat yang benar-benar bergaya tradisional setempat, bukan hanya tempelan asesoris yang terkesan asal pasang.


Kawasan Perumahan Tempo Doeloe

Satu kawasan perumahan yang pertama kali saya kunjungi adalah kompleks perumahan Pertamina di daerah Gunung Dubs. Kawasan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sebelum Indonesia merdeka ini tetap mempertahankan keaslian gundukan tanah dan hutan lindungnya yang hijau-sejuk dengan pepohonan liar dan tua. Saluran air dibuat dengan baik dan kebersihannya terjaga. Rerumputan pun ditangani dengan baik – dipangkas pada waktu-waktu tertentu oleh para petugasnya. Sudah barang tentu resapan air tetap terjamin.


Menurut saya, inilah penataan kawasan perumahan yang ideal, dan orang-orang Belanda memang lihay dalam persoalan ini. Oh ya? Ya! Kalau tadi sedikit saya ungkapkan tentang tata lansekapnya, begitu pula dengan rumah-rumahnya. Rumah khas bergaya arsitektur kolonial yang dipadukan dengan arsitektur lokal. Rumah bergaya Eropa tapi panggung. Jendela dan pintu lebar-tinggi tapi memiliki kaki panjang (panggung). Bahan bangunan bervariasi. Ada yang memakai dinding bata. Ada yang tetap memakai papan.


Yang tidak kalah menariknya, pagar halaman rumah. Tidak ada pagar halaman yang menjulang. Tingginya sekitar 1 meter saja, dan dari bahan kayu. Itu pun tidak setiap halaman rumah memiliki pagar. Dengan suasana alami dan paduan gaya bangunan yang khas, kawasan ini layak menjadi salah satu daerah tujuan wisata sejarah dan wisata arsitektur di Balikpapan.


Kawasan Perumahan Tempo Kini

Bagaimana dengan kawasan perumahan lainnya? Balikpapan Baru, misalnya. Kawasan ini mulai digarap menjelang tahun 1990-an. Kawasan perumahannya tergarap lumayan bagus dengan pepohonannya. Namun, hal yang, menurut saya, tidak pas adalah bentuk bangunan beserta nama-nama cluster yang sangat tidak kontekstual, semisal Amsterdam. Apakah tidak ada nama atau istilah Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, yang bisa dipakai?


Demikian pula dengan kawasan niaganya (Mal Fantasi, pertokoan, dll). Bentuk-bentuk arsitekturalnya benar-benar tidak kontekstual karena mengambil bentuk-bentuk Eropa tapi tidak disesuaikan dengan karakteristik klimatologi lokal. Hal ini jelas berbeda dengan gaya arsitektur kolonial bangunan kompleks Pertamina (didesain langsung oleh arsitek asal Belanda dan dibangun oleh kolonial Belanda), di mana gaya kolonial bikinan orang Belanda selalu kontekstual secara klimatologis di setiap daerah jajahannya.


Kawasan perumahan yang pernah pula saya kunjungi, misalnya Perumahan Batu Ampar dan Balikpapan Regency, menurut saya, masih jauh dari kesan asri dan nyaman. Pengelolaan lingkungan, infrastruktur, dan lain-lain tampak berantakan dan acak-acakan. Sementara beberapa kawasan perumahan lainnya belum saya kunjungi.


Dalam kaitan antara pembangunan perumahan dan alam, sebagian warga kota ini semakin kurang akrab dengan lingkungan alamnya. Penggundulan dan pemangkasan kawasan perbukitan kian marak sejak libido laba pengembang melampaui ubun-ubun. Reboisasi menjadi ilusi yang tercetak dalam blueprint perencanaan. Ya, hanya sebatas rencana,


Fungsi peresapan pun sama sekali kurang dihayati, kendati sebagian besar penduduk kota Balikpapan akrab dengan televisi, dan sosialisasi fungsi peresapan bukan sesuatu yang nihil. Air hujan yang mengguyur kota sebagian besar langsung dialirkan oleh selokan-selokan. Debit air yang berlebihan ini telah menimbulkan banjir di beberapa wilayah kota.


Yang tak kalah memprihatinkan, sebagian mangrove di wilayah pesisir pun digerogoti oleh pembangunan sampai ke akar-akarnya, semisal kawasan Balikpapan Super Block. Padahal abrasi yang terjadi di sepanjang pesisir kota ini memperlihatkan kecenderungan yang signifikan. Belum lagi bangunan yang muncul merupakan bangunan bergaya modern, yang sama sekali tidak mencerminkan kekhasan kota Balikpapan.


Oleh karenanya, secara sekilas pandang rumah-rumah di kota Balikpapan memiliki salah satu kekhasannya yang jelas, yaitu mengepung perbukitan-perbukitan. Kalau kau tidak percaya, cobalah tengok dan cermati baik-baik. Siang ataupun malam, kau akan melihat pemandangan itu.


Telaga Sari, 06 Februari 2010

Kamis, 05 Maret 2009

Gang Jablay *

31 Juli 2006 aku mulai tinggal di gang itu. Jakarta dan tinggal di gang itu bukanlah impianku. Salah seorang bos developer merekrutku dari kampung Sri Pemandang Pucuk Sungailiat, dan mengajak ke Jakarta. Di Jakarta dia menyuruh anak buahnya, warga lokal, mencari tempat tinggal untukku. Kamar 3 x 3 dengan fasilitas sederhana, sesuai dengan permintaanku. Jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja hanya 300 meter.

Aku baru tiba, dan ngobrol sebentar di kantor. Kemudian aku ingin meletakkan barang bawaanku ke tempat tinggal baru. Berangkatlah aku bersama anak buah bos tadi. Dia membawaku ke sebuah gang yang ujungnya terhadang tembok setinggi 3 meter yang berselimut lumut kerak dan tertancap sebatang pohon mangga manopuese. (setelah tinggal beberapa waktu di situ, beberapa orang di situ bilang, pohon itu angker; ada penunggunya, dan di antara mereka pernah melihat makhluk itu, tetapi aku tidak tahu kebenarannya karena aku tidak dikaruniai kemampuan metafisik.)


Kamarku berada di lantai dua, menghadap ke utara. Fasilitasnya berupa kasur busa dengan sprei baru, bantal, dan sebuah lemari pakaian berukuran kecil. Tidak ada saling silang sirkulasi udara. Karena Juli masuk musim kemarau, suhu kamar kurasa gerah. Sebagai penghuni baru sekaligus baru pertama ini aku tinggal di Jakarta, tentu saja belum ada kipas angin.


Satu hari tinggal di situ aku langsung menikmati malam bersama orang-orang sekitar di portal jaga yang terletak dekat gerbang masuk kompleks perumahan salah satu departemen masa lampau. Tiap malam aku bergabung. Bermain karambol atau sekadar ngobrol menunggu kunjungan kantuk. Ada tukang ojeg, tukang air, tukang servis alat elektronik, tukang jahit, sopir truk angkut puing, kuli bangunan, buruh pabrik kardus, pedagang rokok eceran, pengangguran, dan lain-lain.


Seringkali sepulang bekerja aku singgal dulu di portal sebelum masuk ke gang tempat tinggalku. Menetralisir suhu dari ruangan AC ke udara alamiah. Menetralisir perasaan situasi sosial setelah pagi hingga menjelang sore bergaul dengan bos-bos, yang terbiasa dengan dunia malam bersama para bidadari imitasi.


Bidadari imitasi? Ah, terlalu seksi, kayaknya. Orang-orang menyebutnya “Jablay” sejak Titi Kamal mempopulerkannya dalam “Mendadak Dangdut”. Dan, rupa-rupanya di tempat tinggalku, setiap jam 3 sore mulai tampak para bidadari berjalan menuju tempat-tempat hiburan malam yang berjumlah lebih dari tiga tempat di sekitar tempat tinggalku. Ada yang mulus, ada pula yang dipaksa-paksakan untuk mulus. Setiap mereka lewat, seketika pemandangan berubah warna, dan wewangian menyeruak lubang hidung.


Salah satu jalan keluar para bidadari imitasi itu adalah gang tempat tinggalku. Dari situlah aku mendengar julukan orang-orang pada gang tempat tinggalku, “Gang Jablay.”


Menurutku, seharusnya namanya “Gang Jablay Buntu”. Namun aku ingat, sesuatu yang mudah diucapkan dan diingat cenderung sederhana, misalnya “Gang Lenong”, “Gang Senggol”, “Gang Bonggol”, dan lain-lain. Maka kupakai saja nama pendeknya, “Gang Jablay” seperti orang-orang di sekitar tempat tinggalku menjulukinya. Kata “buntu” terpaksa kubuang agar tidak merusak “kebiasaan” sebagian orang di situ.


Memang tepat, “Gang Jablay”. Lebih dari 20 bidadari imitasi tinggal di situ. Di antara kamar-kamar tempat tinggalku pun terdapat empat bidadari imitasi. Belum lagi dalam beberapa bangunan di sekitar tinggalku. Ada yang bekerja sebagai waitres di diskotik-dangdutik, ada yang menjadi tenaga nikmat di sebuah panti pijat, bahkan ada yang menjadi “simpanan” pengusaha batubara dari Kalimantan. Mereka memiliki pasangan tetap tanpa surat resmi pernikahan. Paha-paha aneka warna dan kontur biasa terpampang lebar di tempat tinggalku. Sementara keseharian pasangan nikmat mereka cenderung ongkang-ongkang di kamar.


Nama pun bisa berubah. Dari yang semula bernama Ningsih, berubah menjadi Lina sewaktu bekerja menjadi waitres di sebuah dangdutik lalu berstatus “istri simpanan”. Atau Inah yang menjadi Indah. Romlah jadi Mila. Rosita jadi Jelita. Suminten jadi Susi. Dan lain-lainnya. Aku tahu begitu karena ada seorang diantaranya yang minta aku palsukan namanya di KTP. Kebetulan aku tidak punya scanner sehingga aku tidak bisa memenuhi permintaannya.


Soal status para bidadari itu, selain istri simpanan yang dinikahi secara siri, juga ada yang masih berstatus resmi sebagai istri orang tetapi minggat dari rumah. Tidak jelas, apakah lantaran suaminya di kampung yang kurang bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, entah karena korban kekerasan, entah memang kegemaran hidup seperti orang kaya, entah apa lagi. Padahal laki-laki yang sekarang hidup bersamanya belum tentu baik dan sabar, bahkan ada juga yang dengan seenaknya meninggalkan istri dan anaknya di kampung.


Soal pekerjaan, seorang diantara mereka mengaku bekerja di sebuah restoran di Jakarta Pusat. Berangkat kerja pukul 09.30 dan pulang pukul 20.30-an. Masa awal dia dan pasangannya mendiami kamar di sebelahku, dia sering membawa oleh-oleh makanan enak-mewah untuk memperkuat status pekerjaannya. Aku tidak perlu percaya atau curiga. Biarlah waktu yang akan menunjukkan kenyataannya. Dan benar, ternyata ia bekerja di sebuah panti pijat plus. Aku tahu dari obrolan dengannya perihal suntik demi keamanan seksual yang saat itu menjadi tayangan di televisi. Ia mengaku rutin disuntik tiap bulan. Baru beberapa minggu kemudian seorang kawan bilang, “Dia bekerja di panti pijat plus.”


Apakah hidup mereka selalu dipenuhi kebahagiaan dan keceriaan? Tak jarang terdengar teriakan makian dari salah satu kamar. Seorang bidadari imitasi, yang usianya masih 18 tahun tapi tubuhnya dikarbit dalam dunia kenikmatan dunia, bisa memaki pasangan nikmatnya dengan lantang, “Anjing! Setan! Ngentot!” Si laki-laki sering kali tidak berkutik karena selama ini dia hidup dari bisnis selangkangan milik bidadari imitasi atau raba-rabaan lelaki pencari nikmat sesaat di meja berbotol-botol bir.


Bagaimana dengan respon induk semang kami ketika melihat realitas mereka? “Terserah apa yang mereka lakukan, asalkan rutin bayar sewa tiap bulan, dan tidak membuat keonaran,” alasannya begitu kira-kira. Induk semang tahu bahwa mereka begini-begitu tetapi apalah arti semua itu dibanding uang setoran saban bulan bahkan lebih besar daripada setoranku. Memang begitulah adanya; pekerjaan dan status pernikahan sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang sangat penting di situ. “Ini kota besar, Bung!” kata kawanku.


Aku sadar, ini kota besar. Di sini kutemui orang-orang yang mayoritas tidak sampai jenjang pendidikan tinggi. Para bidadari juga begitu. Maksimal jebolan SMA, tapi tidak sedikit yang hanya sampai bangku SMP. Isi obrolan hanya berkisar dalam keseharian yang jauh dari suasana diskusi intelek, dan aku harus memahami realitas mereka. Aku pun menggunakan keseharian sebagai obrolan, bukan lagi memasukkan bahan-bahan yang sangat tidak mengena dalam kapasitas berpikir mereka. Misalnya makanan ini-itu, obyek wisata yang begini-begitu sampai tentang dunia olah raga semisal sepakbola.


Begitulah akhirnya kupakai nama itu sebagai tempat aku menulis selama di Jakarta. Dan, 07 Maret 2009, Gang Jablay akhirnya kutinggalkan.


*******

*) ditulis sebelum komputerku masuk kotaknya untuk berangkat ke Balikpapan, menyongsong masa depan. Banyak cerita yang ingin kuceritakan selama berada di sana tetapi waktu jualah yang menjadi pertimbangan penting.

Jumat, 02 Januari 2009

Ucapan Terlambat : Selamat Tawon Baru 2009

Selamat Tawon Baru 2009.

Hidup tak cukup menyesali sengatan-sengatan tawon silam

membanggakan manisnya madu-madu tawon silam.

Sengatan baru, juga sembuh, serta madu lezat berkhasiat sakti

ada di hadapan kita


*


31 Desember 2008. Ada persiapan untuk sebuah perayaan kecil di rumah orangtua saya sebagaimana hari raya pada umumnya. Dan rendang tetap menjadi elemen mutlak dalam hidangan hari raya di Bangka. Saya kebagian tugas mengupas bawang, kunyit, jahe, dan laos. Kelapa sudah dikupas oleh saudara sepupu saya (Budi alias Udik), sekaligus diparut di sebuah tempat pemarutan kelapa. Saudara angkat saya (Mbak Parmi) sibuk mengiris daging sapi sebanyak 6 kg.


Barangkali saja inilah hari raya terakhir masa bujang saya bersama orangtua di Bangka sebab beberapa minggu lagi saya akan hijrah ke Borneo dalam rangka menyongsong masa depan lebih asyik. Tempat kerja baru, lingkungan baru, suasana baru, dan keluarga baru.


Bangka, Jogja, Jakarta, dan Bogor. Saya tinggalkan orang-orang yang sekian lama saya akrabi, untuk pergi jauh dan membuat komunitas baru lagi. Bangka sejak tahun 1971-1987, dan 2005-2006 adalah sepenggal perjalanan. Jogja 1987-2005 adalah bagian yang tak terpisahkan. Jakarta 2006-2008 adalah saat lumayan krusial dalam langkah. Bogor Juli – Desember 2008 merupakan kelanjutan dari kisah kasih yang siap terbina dalam realita. Balikpapan 2009 adalah awal langkah saya menekuri realitas bersama sang kekasih yang akan menjadi istri saya. Selain itu, sekilas kenangan saya pada Bandung, Bali, Lombok, dan Toraja.


Saya sama sekali tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya benar-benar jalan-jalan begini, terkecuali semakin menginsyafi bahwa Indonesia itu betul-betul Nusantara. Tak keliru istilah “Nusantara” yang ditemukan oleh penemunya. Saya bersyukur hidup di Nusantara meskipun saya belum juga singgah ke Sumatera, Riau, Papua, Timor, dan lain-lain.


**


Malam Tawon Baru 2009 saya rayakan bersama keluarga angkat saya, Mas Sun dan Mbak Sorga dan keluarga adik Mbak Sorga (Percayalah, tiada manusia di dunia yang bisa masuk Sorga, kecuali Mas Sun bahkan bisa berkali-kali! Kalian mau masuk Sorga? Sudahlah, kalian tak usah bikin perkara. Buanglah impian masuk Sorga itu.)


Acaranya mendadak. Sekitar pkl.18.30 WIB saya berkunjung ke rumah Mas Sun. Omong punya omong, diajaklah saya berkumpul ke rumah salah seorang adiknya Mbak Sorga (mereka beragama Islam, para perempuannya berjilbab). Bakar ikan Krisi, dan otak-otak ikan Tenggiri. Saya makan tiga ekor. Sedap nian! Dan itulah acara pertama sekaligus terakhir untuk berkumpul dengan mereka karena hanya kebetulan belaka.


Malam itu langit bertabur bintang. Kembang api tengah dipersiapkan. Di sela-sela menikmati ikan bakar, saya mengirim sms untuk Jocy dan mama, ucapan “Selamat Tawon Baru 2009”. Terus, setelah makan-makan usai, saya menelpon Jocy, memberi tahu saya sedang apa, di mana, dengan siapa, dan mau bagaimana. Sedikit saya singgung soal hari raya Tawon Baru dalam tradisi keluarga kami, yang tidak terlalu semarak merayakan Natal.

Pukul 23.45 WIB saya pamit pada keluarga besar itu karena saya disuruh menjumpai kawan di sebuah radio swasta untuk acara penyulutan kembang api. Sepanjang perjalanan, jalan-jalan di daerah kami ramai juga pada malam Tahun Baru ini. Di sebagian wilayah langit, beberapa kembang api sudah melambung, menyala, meletuskan api-api. Juga suara terompet dan konvoi kendaraan roda dua seakan hendak mempercepat waktu pergantian tahun.


Ah, andai Jocy bersama saya menghabiskan malam Tahun Baru tanpa sisa setetes pun, alangkah bahagianya saya. Ah, beginilah kiranya khayalan orang kesepian, yang sedang terhalang oleh jarak dan waktu untuk bercengkrama dengan sang kekasih. Dan khayalan tadi meletus pada kembang api di halaman radio swasta pada pkl. 00.00 WIB. Usai menyaksikan acara biasa-biasa saja itu, saya langsung pamit pulang.


Acara kembang api memang biasa-biasa saja yang terlihat. Tiada istimewa antara perayaan dan kembang api karena hanya semacam itu hasil letusannya di angkasa. Tiada kreasi spektakuler nan fantastis di sekitar daerah kami. Atau mungkin lantaran saya bukan produsen maupun salesman kembang api, yang melihat hal-hal sederhana tanpa memperhitungkan laba dari bisnis barang sejenis.


Dalam perjalanan pulang saya sempat berpikir, andai tahun baru saya bisa melihat ledakan bom besar di mana-mana, ledakan-ledakan pesawat terbang yang sedang melintas di langit kota, nyasarnya milyaran peluru asli, roboh-runtuhnya menara-menara, konvoi tank, pawai ternak, karnaval pasien rumah sakit jiwa, baku tembak sesama aparat, bisingnya sirine sampai atraksi akrobatis pesawat ulang-alik luar angkasa di atas kampung-kampung, tentunya seremonial tahun baru akan lebih meriah dan sangat berkesan dalam benak banyak orang yang menyaksikannya.


Waktu saya sampai di rumah, tiga kamar di rumah bagian belakang dan lampu terasnya gelap gulita. Barangkali keluarga besar kami sudah terlelap dan mimpi menjadi direktur perusahaan kembang api. Namun sangkaan saya keliru. Orang-orang di rumah kami sudah pergi ke pantai Matras (bersebelahan dengan pantai Parai), yang berjarak 3 km dari rumah kami. Saya tertinggal! Waduh biyuh! Saya pun menelpon Jocy. Lalu, hanya tulisan inilah yang akhirnya tercipta.


***


Kamis, 1 Januari 2009, setelah pkl. 10.00 WIB. Saudara-saudara sedarah dan lain darah serta lain daerah di Bangka datang ke rumah orangtua saya. Saudara-saudara sedarah berasal dari ibu, dan dari sepupu-sepupu ibu saya. Saya dan mereka beda kakek-nenek, atau kakek-nenek masih saudara. Sementara saudara-saudara angkat adalah karena rasa kedaerahan (etnisitas) yang begitu lekat tahun 1960-an.


Konon, ayah saya datang ke Bangka tahun 1953, dan ibu saya tahun 1960. Beliau berdua menikah sebelum PKI gagal melakukan kup kekuasaan tahun 1965. Akan cukup panjang bila saya ceritakan kronologis-faktaisnya mengenai tali persaudaraan angkat yang terjalin lebih dari 30 tahun itu.


Pada hari raya 1 Januari mereka selalu hadir seperti mengisi absen tahunan dalam acara bersilaturahmi kepada para pini sepuh keluarga besar, yang mana ayah-ibu saya adalah orangtua tertua di Bangka. Dan, selain dengan istri atau suami, juga dengan anak-anak, mertua, serta ipar sampai sepupu mereka. Betapa ramai rumah ortu saya.


Saya mengambil moment tahun baru kali ini sebaik-baiknya untuk tetap berada di sekitar mereka. Bertemu, berbicara langsung, dan apabila ada pertanyaan seputar keberadaan saya, bisa langsung saya jawab seketika. “Tanyakan langsung pada orangnya, jangan memakai jawaban makelar atau gossip pinggir selokan,” begitu alasan saya dalam hati sebab pada perayaan tahun baru 2010 dan seterusnya belum tentu saya akan hadir dalam kondisi kelajangan saya saat 1 Januari 2009.


Dalam situasi kumpul keluarga besar tersebut, saya tak bisa leluasa menggauli Jocy lewat telpon seluler seperti ketika saya sedang sendirian di kos saya di Jakarta atau kontrakan saya di Sentul tempo hari. Komunikasi-relasi sosial-kultural-tradisional benar-benar sedang melingkupi atmosfir keseharian saya hari ini sehingga, selain Jocy, ibu-bapak angkat saya pun belum saya kunjungi untuk berhari raya.


****

Sungailiat Bangka, ujung hidung 2008 sampai bibir 2009




Hari Raya 1 Muharam 1430 H

1 Muharam, atau 1 Suro di Jawa yang biasanya ramai pada malam menjelang 1 Suro, dengan ritual membersihkan benda-benda pusaka nan keramat dan orang-orang begadang atau keluyuran, baik hanya berjalan kaki maupun naik kendaraan ke tempat-tempat tertentu sehingga keramaian terjadi di jalan-jalan.

Kali ini bukan di Jawa, tepatnya Jogja yang mulai saya datangi-huni pada 10 Juni 1987 dan saya tinggalkan 14 Mei 2005. Sementara itu tentang Hari Raya 1 Muharam di Bangka, saya ketahui sekitar tahun 1980-an namun saya belum pernah pergi ke sana meski ternyata di daerah saya, Sungailiat, sendiri. Barangkali suatu kebetulan, ketika saya mudik 28 Desember 2008, besoknya, 29 Desember adalah 1 Muharam 1430 H

1 Muharam 1430 H (29 Desember 2008 M) saya alami di Sungailiat, Bangka (Sungailiat adalah ibukota kabupaten Bangka, provinsi Bangka Belitung. Bukan ibukota provinsi). Tetapi 1 Muharam menjadi sebuah hari raya bukanlah bagi penduduk seluruh Sungailiat, melainkan hanya dirayakan oleh sekitar 5 % penduduk di suatu tempat yang berada di jalan utama Sungailiat – Pangkalpinang, tepatnya kecamatan Air Kenanga. Itu pun tidak seluruh kecamatan itu merayakannya. Hanya pada wilayah sepanjang nyaris 1 km di kanan-kiri jalan utama tersebut.

Dari kampung saya menuju daerah itu, melewati jalan Pemuda (kawasan perkantoran Pemda Bangka), belok kanan di pertigaan Paritpadang, terus melewati pertigaan yang salah satu jalannya (belok kiri) menuju pantai Rebo, ambil jalan lurus (utama) ke arah Pangkalpinang. Kanan-kiri jalan masih tampak nuansa penduduk etnis Cina, yakni terlihat dari kertas-kertas merah di kusen atas pintu depan, dan tempat sembahyang keluarga di depan rumah. Sampai pada sebuah kompleks pemakaman kampung di sebelah kanan jalan, di sanalah dimulai kehidupan penduduk muslim.

Di depan saya, jalan dipadati kendaraan. Agak macet. Mobil-mobil yang hendak melintas dari atau ke Sungailiat bergerak sangat lambat karena di kanan-kiri badan jalan selebar 8 meter itu terparkir mobil-mobil orang bertamu – baik masih berhubungan keluarga yang selama ini tinggal di luar daerah tersebut maupun orang lain yang sengaja singgah untuk turut berhari raya di situ meski tidak mengenal siapa tuan rumah yang mereka kunjungi. Juga beberapa pedagang jajanan, terutama pedagang bakso, es, dan mainan anak-anak keliling yang umumnya adalah orang Jawa. Rumah-rumah penduduk terlihat ramai. Orang-orang berpakaian hari raya, di luar dan di dalam rumah. Beberapa di antara mereka bersalaman. Toples-toples makanan ringan terhidang di meja. Belum lagi makanan lainnya.

Saya melanjutkan perjalanan, mengisi bahan bakar, lalu terus ke batas gerbang Sepintu Sedulang, yang berdekatan dengan sebuah kompleks perumahan sederhana. Melewati gerbang Sepintu Sedulang, suasana langsung berubah. Kanan-kiri jalan ditempati rumah-rumah penduduk beretnis Cina dengan kekhasan kertas-kertas merah di kusen atas pintu depan, dan tempat sembahyang keluarga di depan rumah.

Barangkali satu kali ini sajalah saya benar-benar melihat realitas Hari Raya 1 Muharam di daerah Air Kenanga, Sungailiat, yang tidak ada di daerah-daerah dalam provinsi Bangka Belitung. Menurut seorang kawan, Hari Raya 1 Muharam lebih banyak memakan biaya dibanding Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha karena orang-orang di sana menerima pula tamu-tamu luar yang sama sekali tidak mereka kenal, selain kunjungan sanak-saudara yang terpencar di seluruh penjuru provinsi bahkan luar provinsi. Hari raya itu merupakan salah satu bagian acara adat yang telah berlangsung lebih 100 tahun, dan hanya terjadi di sana.

*******

Sungailiat, 30 Desember 2008